Taufik sentana

Guru, konsultan pembelajaran dan ikatan dai indonesia. Menetap di Aceh barat bersama seorang istri dan enam orang anak....

Selengkapnya

Dari Logika Kaum Santri Kita Belajar Mencerdasi Peristiwa

Belajar Dari Logika Kaum Santri

Kata logika merujuk pada makna penggunaan nalar dan perspektif dalam melihat masalah dan kemungkinan penyelesaiannya. Saya sebut kemungkinan karena kepastian hanya milik Yang Maha Mutlak (Al-Haq). Begitulah salah satu model berfikir keseharian kaum santri, yang kemudian menjadi budaya logika mereka.

Sedangkan dari sudut tingkatan berfikir, seni dan orientasinya, kaum santri pun memiliki proses nalar tersendiri. Mungkin ini sebab dari pengaruh lingkungan (termasuk ust/kiyai) dan apa yang mereka lahap dan cerna dari kitab-kitab. Maka sejak awal Risalah Islam masa Rasul dan sahabat hingga tersebarnya Islam di Nusantara, tak terlepas dari peran kaum "santri".

antara tafaqquh dan angkat senjata

Merekalah kaum yang diharapkan dapat menjadi pencerah di tengah ummat, menjadi perekat dan penerus estafet risalah. Pada kondisi ideal kaum santri memang tidak mengambil jalan angkat senjata dan lebih fokus pada tafaqquh fiddin. Tapi dahsyatnya, mereka bisa angkat senjata kapan saja. Kenapa?

Karena yang mereka tahu dan pelajari, semua makhluk "menjadi" tentara-Nya Allah, bisa menjadi senjata, bisa menjadi tameng dan penakluk musuh: itulah logika mereka.

Bila ada diantara kaum santri yang tidak menunjukkan perilaku ideal kesantrian, maka jawab mereka pula: para santri berbeda level atau maqam dalam menapaki ilmu santrinya. Bisa karena beda guru, beda lokasi nyantri dan beda kultur, termasuk beda dalam kitab tertentu yang dipelajari. Sehingga berbeda pula karekter santri yang terbentuk.

Misal, sebagian pesantren secara murni mempelajari kitab kitab bermazhab Syafi'i. Sebagian lagi mempelajari semua kitab mazhab secara bertahap, atau mempelajari seni bermazhabnya. Adapun di lain pesantren, hanya murni mempelajari satu mazhab tertentu saja. Dari sinilah logika logika itu dikonstruksi menjadi kebudayaan yang lebih tinggi lalu membuahkan peradaban Islam kontemporer. Dengan catatan, tetap berpegang pada salafussalih, era tiga ratusan tahun sejak wafatnya Nabi kita.Inilah era imam mazhab yang mashur. Dengan alur ini, keautentikan Islam akan selalu relevan dan segar serta menumbuhkan daya berfikir, kreativitas dan perbaikan masyarakat, termasuk toleransi dan sikap rahmat terhadap penjuru alam.

Merawat logika dalam pergeseran nilai

Sungguh, ini hanyalah pengantar bagaimana kaum santri membangun logika sendiri dalam memaknai lingkungan dan kehidupan secara umum. Demikian pula halnya saat para santri berinteraksi dengan sekitar mereka dalam keseharian, semua bermuara dari "logika" yang kita maksud dalam pembahasan di atas.

Ketika terjadi debat perihal shalat dan hukum hukumnya, seseorang bisa saja datang menghentikan debat itu hanya dengan berucap: "Apakah kalian sudah shalat?"

Untuk meredam rasa duka yang berat karena jauh dari keluarga tercinta, kaum santri senang menyebut diri mereka sedang berada di "penjara suci". Kepada santri yang tinggal kelas, sang ust hanya berkata, "mau pilih kelas atau ilmu?"

maka si santripun akan rela tinggal kelas, hingga tak jarang ada yang berulang kali tinggal kelas, tapi tetap bertahan juga.

Dari yang penulis alami dan amati, logika tersebut tumbuh secara murni berdasarkan kognisi dan cara mencerdasi peristiwa yang tidak melanggar rambu syariat. Beberapa peristiwa tersebut biasanya menjadi hiburan antarsantri saja: untuk perkara mandi, Karena mereka selalu mandi bersama pada waktu yang bersama pula, maka teknik menghemat sabun adalah dengan "memotongnya" menjadi beberapa bagian kecil (ada yang sekecil dadu) untuk dipakai sekali mandi dan ditinggal hingga habis. Sebab rawan juga bila berbagi sabun, bisa berbagi kemungkinan penyakit kulit.

Adapun di bagian puncaknya adalah bahwa logika santri tersebut akan sangat potensial berbenturan dengan arus modernitas, teknologi, gaya hidup global. Kerancuan dalam hal ini, bisa berakibat pada pupusnya peran santri sebagai pencerah ummat, penerus risalah pada profesi apapun yang mereka geluti dalam masyarakat.

selamat menyambut hari santri nasional.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Keren, paparan yg sarat makna. Smoga santri menjadi penerus ulama dan dapat mengisi negeri tercinta ini dg logikanya menuju rahmatan lilalamin. Sukses pak guru dan barakallah

12 Oct
Balas

Sama sama buk. Trm ksh banyak.

12 Oct
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali